headline news

Sat

20

May

2017

17 June performance in Amsterdam

Ruang Suara is back! Dewa Alit with Ensemble Modern Frankfurt will be at Holland Festival 2017.

Read More

Sat

20

May

2017

June 3 performance in Pejeng, Bali

Gamelan Salukat will be at Festival Tepi Sawah, Performing Arts in Nature, playing Dewa Alit's works including the latest piece, "Memedi".

Read More

ⓒ Dewa Alit & Gamelan Salukat

CD "Salukat" line notes

SALUKAT

Gamelan Evolusi

 

oleh

Dewa Ketut Alit

2007

 

 

Dilahirkan di sebuah keluarga seniman tradisional, dalam lingkungan musik tradisi yang sangat kuat, saya ingin mengungkapkan rasa cinta terhadap itu, serta menjelaskan cara pandang saya tentang arah masa depan musik Bali dengan cara menciptakan karya-karya baru tanpa meninggalkan alemen-elemen yang menjadi roh musik tradisi itu sendiri.

 

Melihat kembali keberadaan musik tradisional Bali di masa silam, menelusuri betapa tinggi nilai-nilai yang terkandung didalamnya, maka yang terpikirkan dibenak saya adalah tentang keberadaan gamelan 7 nada seperti gamelan Gambang, Gamelan Slonding dan Gamelan Gong Luang. Gamelan ini adalah gamelan yang sangat disakralkan oleh masyarakatnya sehingga dari dulu memang sangat langka keberadaaannya.

 

Gamelan Salukat adalah seperangkat gamelan tujuh nada yang khusus dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan-tuntutan   berexpriment musik tradisi di masa kini. Salukat merupakan proses kemajuan rejenorasi dari keberlangsungan sebuah peradaban musik. Salukat merupakan refleksi dari kebebasan berexpresi. Ia berisikan gagasan untuk membuka ruang apresiasi yang seluas-luasnya, sebagai dorongan untuk melahirkan pemahaman baru tentang bagaimana jenerasi ini melihat kembali musik tradisionalnya.

 

Kata Salukat terdiri dari dua suku kata yaitu : Salu dan Kat.   “Salu” berarti rumah. Rumah sebagai tempat berteduh, berlindung, berkumpul, sebagai tempat untuk pergi dan kembali, sebagai sumber ketenangan sehingga ada ruang dan waktu untuk merenungkan kembali apa yang sudah dan sedang berlangsung. Sedangkan “Kat” berarti melebur, yang dalam kontek ini Kat sebagai terjemahan dari sebuah proses perubahan yang sedang terjadi, berevolusi untuk mempersiapkan jawaban atas pertanyaan berikutnya.

 

 

  1. NGANGLANG KE LELANGU 2008

 

Mencari arti dari sebuah perjalanan berkesenian, menembus ruang dan waktu yang tidak terbatas adalah kesadaran akan pentingnya memaknai arti dari perjalanan berkesenian itu sendiri.  

 

 

Nglanglang Ke Lelangu menggambarkan lika-liku pengalaman hidup sang komponisnya didalam melakoni profesi sebagai seniman baik sebagai guru, musisi ataupun komposer.   Perjalanan berkesenian lintas negara, bertemu berbagai orang yang mempunyai latar belakang budaya yang berbeda-beda memberikan pengalan baru serta kesan tersendiri yang kesemua pengalamaan itu disyukurinya sebagai anugrah.  

 

Nglanglang Ke Lelangu terdiri dari :

  • ·      Salju
  • ·      Aes
  • ·      Murwe Daksine
  • ·      Di Persimpangan Jalan

 

 

2   SEMESTA     2009          

 

Detik, detik detik per detik

Merambat, menjalar kesegala arah ruang enerji

Hamparan luas Hyang Ibu Pertiwi

Bersanding bias mujizat sang mentari

Bayu sabda idep, terikat suka duka lara pati

Bumi berputar sepanjang masa, manusia lahir hidup dan mati

Jagalah planet ini!

Bumiku bumimu, bumi kita sejati.

 

 

  1. SALUGAMBUH 2009          

 

Secara umum laras gamelan di Bali tidak memakai standar yang pasti diantara barungan gamelan yang satu dengan gamelan yang lainnya walaupun masih termasuk dalam satu jenis gamelan yang sama. Laras merupakan factor yang sangat mendasar untuk pembentukan sebuah karakter dari sebuah barungan gamelan. Bagi pemain gamelan di Bali ini adalah sangat penting. SaluGambuh merupakan hasil karya exsprimental yang berasal dari sebuah ide untuk memadukan laras yang berasal dari instrument gamelan dari barungan yang berbeda.   Instrumen yang dipakai yaitu : Suling Gambuh, Gambang Salukat dan Gender Wayang.

 

 

4.   PANGENTER ALIT   2003    

 

Pangenter Alit merupakan bahasa pengantar bagi komponisnya untuk melihat kembali secara mendalam keberadaan gamelan-gamelan kuno di Bali.   Pangenter Alit adalah sebuah gending yang merupakan hasil dari penggalian saih-saih atau patet yang selama ini terpendam pada jenis gamelan tua yang bernadakan Tujuh. Gending ini secara utuh memakai Dua jenis saih yang sebelumnya belum pernah terpakai oleh komponis – komponis pada penciptaan karya-karya baru di Bali.   Dari Dua jenis saih ini pula saya ditarik dan diantar kesebuah permukaan untuk membuka lebih jauh rahasia-rahasia yang terkandung didalam gamelan Tujuh nada.   Dan dari pengalaman ini pula muncul gagasan untuk membuat barungan gamelan baru yang bernadakan Tujuih dengan nama “Salukat”